KEBER-AGAMA-AN DALAM WAJAH MIMESIS

Muhammad Adlan Nawawi

Abstract


Pemisahan agama dan politik di negeri yang sejak awal dilatarbelakangi perbincangan tentang diskursus agama sebagai dasar negara, memang tidaklah mudah. Sejarah perjalanan kebangsaan dan keindonesiaan dengan berbagai peristiwa politik yang mewarnainya, seringkali membuat agama menjadi sumber motivasi dalam menentukan pilihan politik. Di satu sisi, fenomena ini merupakan sebuah kelaziman sekaligus keniscayaan. Namun ketika hubungan agama dan politik (negara) menimbulkan gesekan, maka pada saat itulah rasionalitas publik dipertaruhkan. Agama yang sejatinya merupakan pedoman hidup bagi kemanusiaan universal, cenderung larut dalam simbolisasi. Pada gilirannya, pilihan pada agama tertentu yang mayoritas menjadi tidak terelakkan. Sementara simbol keagamaan yang minoritas cenderung tidak memperoleh tempat untuk dipertimbangkan. Tulisan ini hendak menegaskan bahwa pada saat agama memasuki ruang publik dan menjadi bagian dari perbincangan politik, maka saat itu pula rasionalitas politik didahulukan. Agama diletakkan sebagai pedoman sejauh tidak bertentangan dengan nilai-nilai politik yang luhur sebagai bagian dari upaya mewujudkan tatanan kehidupan yang lebih baik dan mengutamakan kepentingan bersama ketimbang kepentingan pribadi, golongan ataupun kelompok, termasuk agama. Meski upaya tersebut tidaklah mudah, tapi pemaknaan tentang relasi agama dan politik (negara) yang sesungguhnya merupakan sebentuk peniruan (mimesis), akan melahirkan hubungan antara keduanya yang lebih harmonis dan mampu memahami perbedaan satu sama lain tanpa harus terjerumus dalam friksi yang berlebihan. Sebab sebagaimana pilihan politik yang bisa berubah-ubah, simbol pola keberagamaan pun pada dasarnya juga berubah-ubah seiring dinamika zaman yang melingkupinya.

Keywords


Agama; Negara; Politik; Mimesis

Full Text:

PDF

References


Abu Zaid, Nasr Hamid, Teks Otoritas Kebenaran, diterjemahkan oleh Sunarwoto Dema, Yogyakarta: LkiS, 2012.

Ali, A. Mukti, “Metodologi Ilmu Agama Islam”, dalam Taufik Abdullah (ed.) Metode Penelitian Agama, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004.

Ariwidodo, Eko, “Logosentrisme Jacques Derrida dalam Filsafat Bahasa”, dalam Jurnal Karsa, Vol. 21 No. 2, 2013.

Baudrillard, Jean, Simulacra and Simulation, United States of America: Michigan, 1994.

Bellah, Robert N., Beyond Belief, diterjemahkan oleh Rudy Harisyah Alam, Jakarta: Paramadina, 2000.

Bertens, K., Sejarah Filsafat Kontemporer, Jakarta: Gramedia, 2014.

Bland, Ben, Politik Identitas di Indonesia Menangkan Pilpres 2019, dalam https://www.matamatapolitik.com/opini-politik-identitas-di-indonesia-menangkan-pilpres-2019/.

Cassanova, Jose, Public Religions in the Modern World, Chicago and London: The University of Chicago Press, 1994.

Cavallaro, Dani, Critical and Cultural Theory, diterjemahkan oleh Laily Rahmawati, Yogyakarta: Niagara, 2004.

Derrida, Jacques, Dissemination, diterjemahkan oleh Barbara Johnson, Chicago: The University of Chicago Press, 1981.

Effendy, Bahtiar, Islam and Democracy: In Search of Viable Synthesis, Studi Islamika: Indonesian Journal for Islamic Studies, Vol. 2 (4), 1995.

Keller, Suzanne, Beyond the Ruling Class: Strategic Elites in Modern Society, New York: Random House, 1963.

Machiavelli, Niccolo, Sang Penguasa: Surat Negarawan kepada Pemimpin Republik, diterjemahkan oleh C. Woekisari, Jakarta: Gramedia, 1987.

Madjid, Nurcholish, Indonesia Kita, Jakarta: Universitas Paramadina, 2004.

Nasr, Seyyed Hossein, Islam and the Plight of Modern Man, terjemahan: Ahmad Mahyuddin, Islam dan Nestapa Manusia Modern, Bandung: Penerbit Pustaka, 1983.

Piliang, Yasraf Amir, Posrealitas, Bandung: Jalasutra, 2004.

Rahardjo, M. Dawam, “Pendekatan Ilmiah terhadap Fenomena Keagamaan”, dalam Taufik Abdullah (ed.) Metode Penelitian Agama, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004.

Real Count KPU, Pilpres 2019, Data Masuk 94%, Selisih Jokowi vs Prabowo 15,4 juta suara, dalam https://www.tribunnews.com/pilpres-2019/2019/05/23/terkini-hasil-real-count-kpu-pilpres-2019-data-masuk-94-selisih-jokowi-vs-prabowo-154-juta. Diakses pada 13 Juli 2019.

Rilis Survei Indikator Politik Indonesia Bulan April – Mei 2019.

Saihu, Made. Merawat Pluralisme Merawat Indonesia (Potret Pendidikan Pluralisme Agama di Jembrana-Bali). Yogyakarta: Deepublish, 2019.

———. Unity in Diversity: Humanism-Theocentric Paradigm of Social Education in Indonesia. Mauritius: GlobeEdit: International Book Market Service Ltd, 2020.

Sen, Amartya, Kekerasan dan Identitas, diterjemahkan oleh Arif Susanto, Yogyakarta: Marjin Kiri, 2016.

_______, Rationality and Freedom, London: Harvard University Press, 2002.

Sodiqin, Ali, Antropologi al-Qur’an, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2008.

Sukidi, New Age: Wisata Spiritual Lintas Agama, Jakarta: PT. Gramedia: 2001.

Supriatma, Made, Pilpres Membelah Bangsa, Jokowi dan Prabowo Harus Bertanggung Jawab, dalam https://tirto.id/pilpres-membelah-bangsa-jokowi-prabowo-harus-bertanggung-jawab-dm8l.

Syamsuri, "Tasawuf dan Terapi Modernisme: Studi Kritis Terhadap Pemikiran Seyyed Hossein Nasr", dalam Jurnal Refleksi, Vol. IV. No. 2, 2002.

Takwin, Bagus, Kembalinya Politik, Yogyakarta: Perhimpunan Pendidikan Demokrasi dan Marjin Kiri, 2008.




DOI: https://doi.org/10.36670/alamin.v4i01.88

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Muhammad Adlan Nawawi

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.